Etiket Makan

bagaimana aturan sopan santun menunjukkan kelas sosial

Etiket Makan
I

Bayangkan kita sedang duduk di sebuah restoran fine dining yang lampunya agak remang-remang. Di depan kita, terbentang labirin alat makan: tiga jenis garpu di kiri, empat pisau di kanan, dan sendok yang entah untuk apa di bagian atas piring. Saat waiter meletakkan hidangan pertama, pernahkah kita tiba-tiba merasa panik karena takut salah pilih garpu? Saya rasa, hampir dari kita semua pernah merasakannya. Sejenak, mari kita pikirkan hal ini. Kegiatan makan pada dasarnya adalah fungsi biologis paling purba yang kita miliki. Kita lapar, kita memasukkan nutrisi ke mulut, lalu kita mengunyahnya. Sederhana sekali, bukan? Tapi entah bagaimana, umat manusia berhasil mengubah aktivitas bertahan hidup ini menjadi sebuah ujian sosial yang menegangkan. Mengapa kita butuh buku tebal hanya untuk mengatur cara mengunyah hidangan pembuka?

II

Untuk menjawabnya, kita perlu melakukan perjalanan waktu ke Eropa abad pertengahan. Dulu, makan bersama adalah urusan yang sangat berantakan. Orang-orang berbagi mangkuk, makan pakai tangan, dan mengelap sisa lemak di baju mereka. Tidak ada yang peduli. Namun, memasuki era Renaisans, terjadi pergeseran psikologis yang menarik. Tiba-tiba, bangsawan Eropa mulai merasa perlu memisahkan diri dari kaum petani. Mereka butuh pembatas yang tidak terlihat, namun sangat terasa. Di sinilah etiket makan lahir. Buku panduan sopan santun pertama mulai beredar, mengatur segalanya mulai dari cara memegang gelas hingga larangan meludah di meja makan. Secara historis, aturan-aturan ini tidak diciptakan demi kebersihan atau kesehatan, melainkan sebagai alat seleksi sosial. Ketika sendok dan garpu perak mulai mendominasi meja makan bangsawan, alat-alat itu berfungsi layaknya kata sandi. Jika kita tidak tahu cara menggunakannya, kita jelas bukan "bagian dari kelompok".

III

Sampai di sini, teman-teman mungkin bertanya-tanya. Oke, itu kan sejarah masa lalu, lalu kenapa sampai detik ini kita masih merasa cringe atau risih saat melihat seseorang mengecap makanan dengan keras? Mengapa otak kita bereaksi seolah-olah orang tersebut sedang melakukan kejahatan moral? Di sinilah ilmu psikologi evolusioner dan biologi neurosains ikut campur. Otak manusia dilengkapi dengan radar sensitif terhadap rasa jijik atau disgust. Awalnya, rasa jijik berevolusi untuk melindungi kita dari racun atau penyakit. Namun, seiring kompleksnya masyarakat, radar ini mengalami "pembajakan budaya". Rasa jijik tidak lagi hanya muncul saat melihat makanan busuk, tapi juga saat melihat seseorang melanggar norma sosial. Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya berhak menentukan norma tersebut? Mengapa makan ayam goreng pakai tangan dianggap wajar di warung pinggir jalan, tapi dianggap bencana sosial di jamuan resmi? Ada sebuah rahasia besar di balik perasaan risih yang tiba-tiba muncul di kepala kita itu.

IV

Inilah kenyataan ilmiah yang mungkin sedikit mengejutkan kita. Etiket makan tingkat tinggi sebenarnya adalah bentuk dari Signaling Theory atau teori persinyalan dalam biologi evolusioner. Sama seperti burung merak jantan yang memamerkan ekor besarnya yang rumit—sekaligus sangat tidak efisien untuk terbang—hanya untuk menunjukkan bahwa ia sehat dan kuat, manusia menggunakan etiket makan untuk memamerkan sumber daya. Aturan makan yang rumit itu sengaja dibuat sulit, tidak praktis, dan memakan waktu. Mengapa? Karena hanya orang-orang dari kelas sosial ataslah yang memiliki waktu luang, uang, dan energi ekstra untuk mempelajari cara mengupas udang menggunakan pisau dan garpu tanpa menyentuhnya. Aturan sopan santun di meja makan pada dasarnya adalah sistem gatekeeping. Ia dirancang untuk mendeteksi penipu. Seseorang dari kelas pekerja yang mendadak kaya mungkin bisa membeli setelan jas mahal, tapi saat ia disuruh memilih antara mangkuk pencuci jari (finger bowl) dan cangkir teh, refleks otot dan kebiasaannya akan langsung membongkar dari mana ia berasal. Etiket adalah tembok pembatas kelas sosial yang paling elegan, karena ia bersembunyi di balik kata "kesopanan".

V

Setelah mengetahui fakta ini, cara pandang kita terhadap meja makan rasanya tidak akan pernah sama lagi. Apakah ini berarti kita boleh makan sembarangan dan mengabaikan orang di sekitar kita? Tentu saja tidak. Etiket dasar yang mencegah kita menyemburkan makanan ke wajah orang lain tetaplah wujud empati yang penting. Namun, kita sekarang bisa melihat aturan-aturan kaku ini dengan kacamata yang lebih kritis dan santai. Kita tidak perlu lagi merasa inferior hanya karena tidak tahu cara membaca susunan garpu Prancis. Begitu pula sebaliknya, kita tidak punya alasan untuk menghakimi atau merendahkan seseorang yang cara makannya mungkin berbeda dengan tradisi kita. Pada akhirnya, makanan adalah tentang merayakan kehidupan dan koneksi antarmanusia, bukan tentang seberapa anggun kita memegang serbet. Lain kali jika teman-teman duduk di meja makan yang penuh dengan aturan, tersenyumlah. Ingatlah bahwa semua pertunjukan teaterikal ini hanyalah warisan sejarah. Bernapaslah yang tenang, pilih garpu mana saja yang membuat kita nyaman, dan mari kita nikmati hidangannya bersama.